LIBURAN TAK TERNILAI
Karya : Witasari
Libur telah tiba,, hati..ku gembira. Suara dentuman lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi cilik, begitu bergema dalam pikiranku. Liburan yang kudambakan dan kuimpikan akan segera kulakukan dengan keluargaku. Tahukah kamu liburan apa yang kuharapkan? Liburan yang kuinginkan adalah kehangatan dalam sebuah keluarga. Memang, liburanku bisa dibilang cukup aneh dan klasik bagi orang lain. Berbeda dengan mereka yang menginginkan sebuah liburan dengan menghamburkan banyak uang. Padahal, masih banyak orang lain yang membutuhkan uang tersebut dari kita, tapi masih saja ada orang yang tidak peduli dengan hal itu. Tapi liburanku ini memang tak keluar uang sepeser pun. Hanya Ayah, Ibu, dan Aku cukup membuat percakapan yang hangat dan harmonis.
Tapi liburanku tak pernah menjadi nyata. Ayah dan ibu selalu sibuk bekerja dan mereka tak pernah mengerti perasaanku. Walaupun aku tahu mereka bekerja keras demi aku, tapi aku ingin mereka tahu bahwa aku merindukan obrolan dan cerita yang selalu diberikan kepadaku saat aku masih kecil, ayah dan ibu waktu dulu begitu baik, dan perhatian sekali denganku dan selalu memanjakanku. Tapi kini hanya sebuah KENANGAN. Tetapi aku masih mengkhayalkan hal itu dengan ayah dan ibu, ingin sekali kulampiaskan ini dengan hal-hal yang pernah dilakukan oleh sebagian temanku. Tapi aku juga tidak mau mengecewakan mereka, aku masih punya otak untuk melakukan itu, aku harus memikirkannya 1000 kali bahkan 1000.000 aku harus memikirkan perbuatanku kedepan dan harus mempertanggungjawabkan hal itu.
Seiring dengan waktu, teman-temanku selalu menanyakan kehidupan keluargaku. Aku terkadang bingung ingin menjawab apa? Tapi aku hanya selalu tersenyum dan segera mencari alasan untuk pergi dari situ. Sekarang teman-temanku menganggap bahwa keluargaku hancur berantakan, ( baca : Broken Home ). Padahal mereka tidak mengetahui bahwa ayah dan ibu selama ini baik-baik saja, tidak pernah kudengar cacian-makian yang keluar dari mulut ayah dan ibu.
Ketika dikelas waktu istirahat, teman-temanku sedang membicarakan tentang liburan mereka yang memang lusa adalah hari pembagian rapot, tapi aku belum membicarkan ini dengan ayah dan ibu. Habisnya mereka jarang sekali pulang kerumah, pulang kerumah bisa dihitung dengan jari dalam sebulan bahkan setahun.
Teman sebangkuku Lani bertanya padaku “ Liburan kamu mau kemana? Bentar lagi liburan. Kalau aku, aku diajak papi pergi piknik dengan mami ke Eropa. Jika memang kau tidak liburan, bagaimana jika kau ikut aku liburan dengan papi dan mami? Mereka pasti mau menerima kamu ikut liburan kami.” Cerita lani kepadaku.
Aku hanya tersenyum sambil berkata “ Terima kasih atas ajakanmu itu, tapi aku tidak berminat berlibur kemana-mana, aku ingin dirumah mengerjakan PR ku. Sekali lagi terima kasih atas ajakanmu.” Jawabku sopan.
“ Tidak apa, jika kau mau aku akan bilang dengan papiku. Lagian papiku dengan ayahmu kan memang sudah kenal, jadi pastilah mereka mengijinkan mu pergi.” Tutur lani masih dengan memaksaku ikut dengannya berlibur.
Tapi aku tetap menggeleng sambil tersenyum berkata “ Maaf “. Lani lalu memasang muka cemberut.
Akhirnya ia berkata “ Ya sudah, terserah kamu sajalah. Tapi jika kau ingin, aku masih membuka loh.. ingat kalo ada apa-apa hubungin aku. Nanti kabarin lagi yah? “ masih dengan memaksa ia berkata, tapi melihat lani yang sudah pasrah begitu aku hanya menggeleng dan tersenyum, ia hanya tersenyum tipis.
Di rumah yang kosong tanpa ada suara tawa, gelap dan sepi, itulah rumahku. Hanya pembantu ayah dan ibu yang mengisi kekosongan rumah ini. Biasanya aku setelah pulang sekolah akan masuk ke kamar dan mengurung diri. Tak ada hasrat untuk melakukan sesuatu. Selama ini yang sering memperhatikanku dan menjagaku adalah mbok siyem. Ia pembantu rumah yang ditamoung oleh ayah dan ibu untuk mengurus rumah ini. Dan ialah kepala pembantu rumah tangga dirumah ini. Dahulu ia bukan berasal dari sini, dia dari kampung yang merantau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sanak saudaranya? Entahlah kata beliau bahwa ia sudah tak memiliki sanak saudara setelah adanya wabah flu burung di kampungnya. Ia merantau kesini dan bertemu ayah dan ibu dijalan, yang kebetulan sekali ayah dan ibu sedang mencari seseorang untuk bekerja dirumahnya. Kalau aku? Aku masih bayi yang masih digendong oleh ibu, dulu ibu belum bekerja. Tapi, setelah aku beumur 5 tahun ibu sudah mulai bekerja dan sama sibuk seperti ayah. Mbo siyem dibawa kerumah karena ibu tak tega melihat mbok siyem tidur kedinginan hanya beralas selembar koran yang pada saat itu sedang terjadi hujan badai. Akhirnya dibawalah mbok siyem dan diberi pekerjaan oleh ibu untuk menjagaku saat ibu tidak ada dirumah. Sebenarnya aku bingung, aku ini sebenarnya anak siapa? Anak ayah dan ibu atau anak mbok siyem? Habis mereka hanya bekerja,bkerja, bekerja dan bekerja. Tanpa memikirkan yang lain. Sedangkan mbok siyem begitu memperhatikanku, ia selalu meberikan kasih sayangnya terhadapku, seandainya ibuku adalah mbok siyem betapa bahagianya aku memiliki seorang ibu yang lembut seperti dia.
“Non, makan dhulu dhari siang non belum mhakan khan? Sekarang shudah mhalam. Apha non ndak lhapar? Mbok sudah siapkan makan malam dan sudah dipanaskan.” Kata mbok siyem dengan suara khas orang jawa, ia berdiri didepan pintu kamarku. Sedangkan aku sedari tadi hanya memeluk boneka kucing kesayanganku yang diberikan ayah dan ibu saat aku berumur 4 tahun. Aku hanya melamun dan bingung kenapa harus aku yang mengalaminya kenapa nggak orang lain saja? Aku merasa malas hidup didunia fana ini. Akhirnya aku membukakan pintu dan melihat mbok siyem yang selalu tersenyum melihatku walaupun ia tahu bahwa aku memang sedang ada masalah dan ia hanya pura-pura tidak tahu, padahal ia tahu.
“Ayah ibu sudah pulang? Kalau mereka sudah pulang baru aku mau makan.” Jawabku.
“Aduh, maaf non. Tuan dan nyoya belum pulang. Tadi nyonya sempat telepon dan bilang tak bisa pulang, dan menyuruh non untuk makan.” Jawab mbok siyem takut-takut.
Aku hanya tersenyum tipis lalu aku berkata “Aku sudah kenyang mbok. Lebih baik makanan itu disimpan saja, atau jika mbok lapar, mbok saja yang makan. Daripada makanan terbuang, sayang kan mbok? Oia, mbok kalau ayah dan ibu jadi pulang bilang saja ke mereka, bahwa aku sudah kenyang. Aku capek mbok, ngantuk. Selamat malam mbok.” Jawabku tersenyum,
Mbok hanya mengangguk dan berkata “iya non”. Lalu aku kembali menutup pintu dan segera kubaringkan badanku dalam kasurku yang empuk, tapi bagiku seperti kasur berduri yang bisa merasakan sakit hatinya perasaanku ini.
Pagi hari ini, adalah pagi yang sangat tidak ingin aku lalui hari ini. Karena hari ini adalah hari pembagian rapot. Dan aku belum bilang kepada ayh dan ibu. Habis bagaimana mau bilang? Ayah dan ibu saja tak pernah bertatap mukaku dari seminggu yang lalu sejak sibuknya ia harus mengurusinya kantornya di banding anaknya. Tapi pagi ini aku melihat ayah dan ibu yang sedang sarapan berdua. Tadinya aku mau langsung pergi ke sekolah, tapi melihat kesempatan emas ini, tidak akan aku lewatkan. Ingat kata pepatah ksempatan tidak akan datang dua kali. Aku langsung menghampiri ayah dan ibu.
“Pagi ayah, ibu” spaku lembut namun ceria.
“ Pagi nak.” Jawab mereka serempak dingin, tanpa menoleh terhadapku. Aku langsung saja duduk yang berhadapan dengan ibu.
“Bu, hari ini akan ada pembagian rapot. Apa ayah dan ibu bisa menghadiri acara pembagian rapot ini? Hanya sebentar kok, aku janji ini tidak akan lama, ayolah yah bu? Acaranya sebentar kok, tidak akan menggangu pekerjaan ayah dan ibu, lagian aku malu, selalu saja jadi bahan obrolan terus. Karena ayah dan ibu tak pernah bisa datang, dan mereka mengira bahwa ayah dan ibu sedang berantem. Jadi, Ku mohon.” Kataku sambil merintih.
“Ayah ada rapat dewan komisaris, tidak bisa ikut, lebih baik kamu dengan ibumu saja.” Jawab ayah yang langsung menjawab duluan, dan mengatakan ketidaksediaannya bisa ikut pembagian rapot.
“Ibu juga tidak bisa sama dengan ayah, ibu juga harus dinas keluar kota sekarang. Lagian rapot bisa diambil kpan saja kan? Dan mengenai teman-temanmu janganlah dipikirkan mereka hanya iri melihatmu.” Jawab ibu cuek tanpa memikirkan persaanku.
Aku yang dari tadi hanya mendengar celotehan mereka yang tidak bisa ini dan itu, aku muak dengan beribu alasan mereka. Bukan hanya sekali mereka melakukan ini, tapi sudah sering dan tidak bisa kuhitung ketiadaannya mereka dalam berbagai acara. Baik di sekolah maupun dalam keluarga. Akhirnya aku bangkit dari kursiku dan mengatakan
“ Tak adakah rasa kasihmu terhadapku. Kenapa diantara kalian tidak ada yang mau peduli dengan aku? Kalian semua hanya mementingkan pekerjaan masing-masing. Sampai kalian tidak tahu bagaimana kabar anaknya setiap hari, aku yang selalu menunggu kehangatan keluarga, tapi tidak pernah muncul. Jika kalian memang bekerja demi aku? Lebih baik aku tidak usah ada di dunia ini. Biar ayah dan ibu tahu bagaimana keadaan sekitar. Cukup! Aku sudah tak sanggup begini terus. Karena aku hanya menjadi penghalang bagi kalian.” Aku segera pergi membawa tas ke sekolah tanpa melihat ayah dan ibu yang diam sambil menundukkan kepala. “ Maafkan anakmu yang tidak tahu diri ini.” Kataku dalam hati. “ Tuhan apa aku tidak bisa membahagiakan kedua orangtuaku?” ratapku dalam hati. Emosiku saat tadi keluar begitu saja.
Di sekolah, aku datang sendiri tanpa ayah dan ibu. Aku iri melihat teman-temanku datang bersama orangtuanya. Ada juga anaknya yang datang duluan baru orangtuanya menyusul. Tapi tidak denganku, akhirnya stelah pembagian rapot selesai pun ayah dan ibu tak kunjung datang pula. Saat guruku menanyakan keberadaan ornagtuaku,
Aku hanya menjawab “ Entahlah bu, mungkin mereka sedang sibuk, aku pun tidak tahu kapan mereka pulang.”
Lalu guruku berkata “ Lebih baik kamu juga pulang, hari sudah mau petang. Dari tadi ibu perhatikan kamu hanya duduk di bawah pohon sambil melamun. Apa kau sudah mengabarkan orang rumah?”
Aku hanya menggeleng sambil berdiri, lalu pamit untuk pergi. “ Sekarang aku akan pulang kerumah bu, dan aku sudah mengabarkan orang rumah.” Jawabku berbohong. Malamnya saat aku sedang duduk melamun di jendela. Tiba-tiba ayah memanggilku lalu dengan malas aku bangkit dan menghampiri ayah, aku agak terkejut mendengar panggilan dari ayah. Seperti mimpi dan bingung, ada apa yang terjadi? Tanyaku dalam hati.
Saat aku menhampiri mereka diruang tamu, ku lihat ayah berdiri menghadap pintu dan ada ibu yang duduk di sofa sambil menangis, dan disitu ku lihat ada mbok siyem yang tersenyum disamping ibu, sambil mengelus punggung ibu yang bergetar.
“ Ada apa ayah memanggilku? Jika mengenai kejadian itu, aku minta maaf. Aku tahu aku salah.” Kataku sambil menunduk.
Tiba-tiba ibu memelukku erat sambil menangis, ibu berkata “ Maafkan ayah dan ibumu ini yang tidak bisa menjadi ayah dan ibu yang baik untukmu nak. Maafkan nak ibumu ini. Ibu tahu ibu salah, oh anakku” menangis sambil mencium keningku.
Aku bingung lalu bertanya “ Apa yang sebenarnya terjadi ibu,, ayah?”
lalu ayah menjawab “ Ayah bangga memilki anak sepertimu, maafkan ayah nak.”
Aku semakin tidak mengerti, ada apa ini?
Tapi melihat ayah yang langsung memelukku sambil menahan haru tangis, ia berkata “ Kami salah telah melantarkanmu nak dan kau tahu nak apa yang terjadi? Kami seperti ditampar oleh perkataanmu tadi nak. Dan tadi ayah dan ibu pergi kerumah gurumu, untuk menyanyakan bagiamana kamu disekolah. Dan sungguh ayah begitu malu didepan gurumu. Bagaiamana kamu diperlakukan disekolah. Maafkan ayah yang tidak bisa menjadi ayah yang baik. Maafkan ayah dan ibumu yang sudah melantarkanmu.” Kata ayah lalu menangis memelukku. Aku yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba air mataku keluar. Aku begitu bahagia dengan moment ini. Ingin waktu segera berhenti. Agar aku bisa merasakan kehangatan ini lebih lama. Sungguh aku merindukan pelukan ini. Akhirnya aku menangis sejad-jadinya. Aku rindu ayah dan ibu dan aku sangat senang dengan hal ini. Mbok siyem yang sudah kuanggap keluargaku, hanya senyum haru yang ia tampilkan. Inilah awal liburanku yang ternilai harganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar